Home » Orientasi Penerapan Standarisasi dan Mutu Hasil Tanaman Pangan di Jawa Barat

Orientasi Penerapan Standarisasi dan Mutu Hasil Tanaman Pangan di Jawa Barat

  Dalam upaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan usahatani petugas dan pelaku usaha dalam penerapan jaminan mutu dan keamanan produk pangan Dinas Tanaman Pangan,Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan  melakukan kunjungan di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang,  Jawa Barat pada Tanggal 8 sampai 10 April 2021.

      Jawa Barat merupakan salah satu provinsi sentra pengembangan padi organik, urutan ketiga setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagaimana yang disampaikan kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat di sela sambutannya menerima rombongan dari Provinsi Sulawesi Selatan.

      Rombongan Dinas TPH – Bun Provinsi Sul-Sel terdiri dari aparat,  penyuluh  dan petani yang berasal dari 5 kabupaten/ kota yang telah melaksanakan pertanian organik meninjau langsung area pengembangan padi organik di Desa Bumi Wangi Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung.

      GAPOKTAN Sarinah merupakan salah satu GAPOKTAN padi organik yang  awalnya hanya 27 orang dengan luas areal   13,76 ha pada  Tahun 2007.  Sejak tahun 2017 hingga sekarang jumlah anggota menjadi 147 orang dengan luas areal 89.30 ha  dan rata rata produksi 7-8 ton per ha dan seluruhnya sudah disertifikasi oleh LSO Inofic.   Kegiatan Budidaya padi organik Sarinah dimulai dari pembuatan pupuk organik yang   dilakukan sesuai petunjuk dari LSO.  Penyediaan pupuk organik secara mandiri termasuk dalam pembuatan dan pendistribusiannya kepada anggota   Penanganan Panen dan Pasca Panen harus sesuai dengan SOP ICS (Internal Control System) merupakan team internal dari GAPOKTAN sarinah yang bertugas untuk melakukan pengawasan dan kontrol terhadap kegiatan budidaya padi organik  Jika ada anggota kelompok yang melakukan pelanggaran (menggunakan bahan kimia),  maka inspektor internal akan melaporkan temuannya kepada ketua ICS yang berdampak  pemberian sanksi  kepada petani yang bersangkutan. Hal ini dijelaskan  oleh ketua Gapoktan Sarinah, Tuti Waryati.

      Usaha budidaya  padi organik di GAPOKTAN Sarinah memberikan konstribusi  dalam peningkatan pendapatan keluarga karena hasil panen dibeli dengan harga yang lebih tinggi daripada harga di pasaran.  Kemitraan dilakukan terutama dalam bidang pemasaran,  selain langsung dengan para konsumen  baik lokal maupun luar daerah juga berkerjasama dengan eksportir.

     Peserta Orientasi  juga berkunjung ke salah satu Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan (P4S) Agrospora  yang berada di desa Pringkasap Kecamatan Pabuaran Kabupaten Subang  yang mengembangkan beras organik dan telah memproduksi  kemasan 1 kg dengan nama Beras Organik Pringkasap dan harga 35 ribu per kg.  Hal yang menarik dari P4S Agrospora  adalah yang mengelola  seorang penyuluh pertanian yang bernama Dedi Mulyadi juga sebagai National Consultan (NC) Organic Rice Production FAO atau Duta FAO, sehingga  kerapkali dikunjungi oleh MX TV Jepang dan dari Provivi  California  Amerika  untuk pengembangan Feromon. Prinsip dasar P4S ini adalah masalah utama pertanian organik bukan pada budidaya tetapi pada konsistensi dan keyakinan.

      Pertanian Organik terpadu memberikan peluang bagi petani dan peternak untuk saling bekerjasama dan meningkatkan nilai jual  produksinya,  produk yang dihasilkan memiliki keunggulan tersendiri karena lebih sehat dan ramah lingkungan tetapi tantangannya adalah membuat ekosistem usaha yang saling menguntungkan membutuhkan waktu proses dan dukungan dari berbagai pihak.

Surya Nengsih, SP

Penyuluh Dinas TPHBUN Prov. Sulsel

(Sumber : http://cybex.pertanian.go.id/artikel/97558/orientasi-penerapan-standarisasi-dan-mutu-hasil-tanaman-pangan-di-jawa-barat-/)

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.